swara, TOMOHON – Kolaborasi lintas negara antara dunia pendidikan, pemerintah daerah, diaspora, dan jejaring kepemudaan internasional kian menemukan bentuk konkret melalui pengembangan Program Edu-Tourism Tomohon, Sulawesi Utara. Inisiatif ini diprakarsai oleh Universitas Klabat (UNKLAB) bersama Manly Manado Society Inc. Sydney dan Australia Indonesia Youth Association (AIYA) Chapter New South Wales, dengan dukungan penuh Pemerintah Kota Tomohon.
Peran diaspora menjadi fondasi strategis program ini. Keynes Boy Lengkong, tokoh Manly Manado Society Inc. Sydney, menegaskan bahwa edu-tourism bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun jejaring global, memperkuat pemahaman lintas budaya, serta membuka peluang kolaborasi pendidikan dan kewirausahaan antara Indonesia dan Australia.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Alexandra Lyons, Presiden AIYA NSW, yang melihat Edu-Tourism Tomohon sebagai ruang pembentukan pemimpin muda berwawasan regional dan global. Program ini dinilai mampu mempertemukan generasi muda dari dua negara dalam pengalaman belajar yang relevan dengan tantangan masa depan.
Wali Kota Tomohon Caroll Joram Azarias Senduk, S.H., menyambut antusias dengan program ini. Caroll menempatkan edu-tourism sebagai instrumen pembangunan berbasis pengetahuan.
“Kehadiran mahasiswa internasional tidak hanya memperkuat diplomasi kota dan promosi potensi daerah, tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM serta ekonomi kreatif. Sejalan dengan itu, kami terus mengembangkan pariwisata edukatif dan berkelanjutan sebagai wajah baru destinasi Tomohon,” Ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Elvis Sumanti, MFM., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNKLAB, menekankan bahwa program ini dirancang sebagai platform experiential learning.
“Program Edu-Tourism Tomohon dirancang sebagai platform experiential learning, di mana mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi terlibat langsung dalam dialog kebijakan, studi UMKM, riset mini, hingga praktik kewirausahaan berbasis lokal. Model ini mempertemukan kampus, pemerintah, dan pelaku usaha dalam satu ekosistem pembelajaran yang aplikatif dan berdampak,” ungkap Elvis.
Bagi dunia kewirausahaan, edu-tourism membuka peluang nyata melalui transfer pengetahuan, jejaring bisnis lintas negara, serta promosi produk lokal ke komunitas global. Sementara bagi perguruan tinggi, program ini memperkuat internasionalisasi, relevansi kurikulum, dan reputasi institusi.
Program Edu-Tourism Tomohon menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat berfungsi sebagai soft diplomacy, menghubungkan generasi muda, mendorong inovasi lokal, dan membangun masa depan kolaboratif antara Indonesia dan Australia.(*/v4N)
















